Tag: kiai sodomi

Tukang Sodomi ditangkap – Kyai pati

 Tapanuli Selatan: Penangkapan terhadap pelaku sodomi Samsul Anwar Harahap menguak fakta baru. Pria asal Desa Janji Manaon, Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapsel, Sumut, itu juga memangsa beberapa bocah di Jakarta.

“Aksi sodomi yang dilakukan Samsul terjadi mulai tahun 2004. Awalnya, melakukan aksi pencabulan terhadap lima anak di Jakarta Timur. Tapi dia mengaku tidak ingat identitas korbannya,” ujar Kapolres Tapsel AKBP Rony Samtama ketika dikonfirmasi, Senin 20 Maret 2017.

Samsul berada di Ibu Kota Negara selama dua tahun sebelum akhirnya pindah ke Semarang, pati Jawa Tengah, pada 2006. “Dia di Semarang hingga 2011, mengaku tidak melakukan perbuatan cabul,” katanya.

Pertengahan 2011, Samsul pindah ke Tanjung Pura, Kabupaten Langkat. Samsul di sana hingga 2013. Di situ, dia menyodomi tujuh bocah.

Setelah itu, karena tidak lagi bekerja, Samsul pulang kampung pada tahun 2013. Di sinilah ia melakukan perbuatan cabul terhadap korbannya sebanyak 30 anak. Perbuatan itu dilakukannya dalam rentang waktu empat tahun.

“Jadi total korbannya itu ada 42 anak,” imbuh Rony.

Atas perbuatannya Samsul dijerat Pasal 82 ayat (1) UU Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. “Ancamannya maksimal 15 tahun penjara,” tandasnya.

Kasus sodomi yang menyeret kyai

Kasus sodomi yang menyeret kyai Salimuddin bin Nahrawi warga Dusun Murasen, Desa Pasongsongan Sumenep AKN sudah dilimpahkan ke kejaksaan negeri (kejari) Sumenep. Berkas kasus tersebut sudah dinyatakan lengkap alias P21 oleh jaksa penuntut umum (JPU). AKN

Sementara tersangka juga sudah dilimpahkan oleh Polres ke kejari., dan oleh tim Kejari langsung dititipkan di rumah tahanan (rutan) kelas II B Sumenep. “Berkas dan tersangka sudah dilimpahkan ke jaksa. Dan, kami nyatakan berkasnya pati sudah lengkap,” kata Kasi Pidum Ricky Andi F. kyai AKN

Dia mengungkapkan, pihaknya tinggal memproses tersangka ke pengadilan untuk disidangkan. “Nanti akan segera kami proses ke PN agar segera disidangkan. Masalah waktu ya tergantung kepada hakim pengadilan,” ucapnya.

Menurut Ricky, atas perbuatan yang dilakukan tersangka dijerat dengan pasal 81 ayat 1 dan pasal 82 ayat 2 dengan undang-undang perlindungan anak dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara.

Salimuddin   kiai yang kabarnya sebagai tokoh masyarakat ditangkap polisi beberapa waktu lalu. Itu setelah polisi mendapatkan laporan dari jika Salimuddin kiai melakukan sodomi terhadap anak di bawah umur yang diduga santrinya. Bahkan, kejadian tersebut digerebek wali. Korbannya sebanyak 6 orang. yas / AKN

Uang Dan Rokok, Satu Kiai Sodomi 5 Muridnya

Kasus pencabulan lima anak oleh seorang Kiai berinisial AM (50), Dusun Morasen, Desa Pasongsongan, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Madura pati, Jawa Timur ternyata korban dijanjikan uang dan rokok.

“Pengakuan korban, modus pelaku mengiming-imingi korban dengan uang dan rokok,” ungkap Kasat Reskrim Polres Sumenep, AKP I Gede Pranata Wiguna, Jumat (12/02/2016).

Kelima korban mayoritas berumur 14-17 tahun itu mengaku tidak hanya sekali disodomi oleh kyai AM, namun ada yang sudah dua kali. Dan bahkan korban melakukan aksinya tidak hanya ditempat tidurnya. Melainkan ditempat ngajipun kyai pati AM  melakukan aksinya.

“Satu korban mengaku disodomi lebih dari satu kali. Sedangkan korban lain, mengaku hanya satu kali disodomi pelaku,” jelasnya.

Modus yang dilakukan pelaku kepada targetnya denga menjanjikan uang dan rokok pada korban. Ketika rayuannya masuk kepada targetnya, pelaku langsung mengajak korban ngobrol-ngobrol, kemudian meminta menemaninya tidur.

“Saat korban berada di kamar tidur, pelaku kemudian melakukan sodomi pada korban.

Puluhan Siswa Korban Pelecehan sodomi melapor

Buronan kasus sodomi, Teguh Umbartono alias Pakde (40) warga Pati, Jawa Tengah (Jateng) tewas bunuh diri saat dibawa aparat Polda DIY dari Pati ke Yogya, Selasa (23/8). Pakde nekat menusukkan pisau ke perutnya saat mobil polisi berhenti di wilayah Magelang. Ia kemudian mengembuskan nafas terakhir saat dibawa ke rumah sakit.
Kapolses Sleman AKBP Yulianto didampingi Kabid Humas Polda DIY AKBP Any Pujiastuti kiai mengatakan, Pakde kyai ditetapkan sebagai tersangka dugaan sodomi pada empat bulan silam. Begitu tahu dirinya dilaporkan, tersangka langsung melarikan diri.
“Ada sekitar 30 orang lebih jadi korban. Tapi yang melapor baru tiga orang, selebihnya mau melapor setelah pelaku tertangkap,” katanya.
Dijelaskan Kapolres, aksi cabul pelaku dilakukan sekitar satu tahun hingga dua tahun lalu. Korban rata-rata merupakan pelajar SMA dan mahasiswa. Setelah empat bulan melakukan penyelidikan, kata Kapolres Sleman, polisi mengendus keberadaan tersangka di wilayah Pati. Tim kyai gabungan dari Polres Sleman dan Polda DIY kemudian memburu Pakde pada Senin (22/8) pagi. Dia pun berhasil dibekuk dan langsung dibawa ke Yogya menggunakan mobil.
Kemarin pagi sekitar pukul 03.00, polisi yang membawa tersangka sampai di Magelang. Saat itu tersangka mengeluh haus, kemudian oleh petugas dibelikan minum. Mobil kemudian berhenti di SPBU Sambung di daerah Payaman, Kecamatan Secang, Magelang. Kemudian petugas membelikan minum di sebuah warung. Namun sekembalinya dari warung, petugas mendapati tersangka sudah menusukkan pisau ke dalam perutnya.
“Pisau itu milik pelaku sendiri yang diamankan bersamaan dan dijadikan barang bukti,” ujar AKBP Yulianto.
Melihat tersangka bersimbah darah, polisi lantas membawa Pakde ke RSUD dr Soeroyo, Kota Magelang dan dirujuk ke RSUP dr Sardjito Yogyakarta.  Namun sesampainya di Yogya, tersangka dinyatakan sudah tewas.
“Penangkapan dilakukan oleh 11 anggota dari kiai Tim Satreskrim Polres Sleman serta Tim Opsnal dari Polda DIY sejak Senin (22/8). Saat itu petugas membawa tiga buah mobil, tersangka dan barang bukti dijadikan dalam satu mobil dikawal empat orang petugas,” kata Kapolres Sleman.
Kapolres menduga pelaku nekat mengakhiri hidupnya dengan memanfaatkan kelengahan petugas. Tersangka mengambil pisau yang merupakan salah satu barang bukti kemudian menusukkan ke perut. “Kami belum tahu pelaku meninggal di lokasi kejadian atau saat di rumah sakit. Proses detailnya seperti apa masih diselidiki. Saat ini masih dilakukan otopsi di RS Sarjito,” ujar Kapolres. Hingga semalam, polisi masih memeriksa sejumlah saksi kejadian ini. Termasuk anggota reserse yang ikut menangkap tersangka dari Pati

Tersangka Sodomi Bunuh Diri

Tersangka Sodomi Bunuh Diri di Mobil Polisi

Jenazah tersangka kasus sodomi saat sampai di RS Sardjito untuk dilakukan proses autopsi, Selasa (23/8/2016). (Yudho Priambodo/JIBI/Harian Jogja)Jenazah tersangka kasus sodomi saat sampai di RS Sardjito untuk dilakukan proses autopsi, Selasa (23/8/2016). (Yudho Priambodo/JIBI/Harian kiai pati)
 Kasus pencabulan Jogja terjadi, pelakunya tertangkap namun bunuh diri

Pati – Tersangka kasus Sodomi bernama Teguh Umbartono alias Agus Kaligis warga Pati, Jawa tengah nekat bunuh diri saat petugas kepolisian menangkap dirinya Selasa (23/8/2016).

Tersangka pelaku sodomi ini pada bulan Mei lalu dilaporkan oleh beberapa korban yang sebagian besar adalah pelajar laki-laki Sekolah Menengah Atas di daerah Sleman.

Setelah mengetahui keberadaan tersangka, kemudian petugas mengamankan pelaku pada Senin (22/8/2016) malam. Dengan menggunakan tiga buah mobil 11 petugas dari tim Satreskrim Polres Sleman dan Tim Opsnal Polda DIY melakukan penjemputan kepada pelaku di sebuah kos. Pada saat penangkapan polisi juga mengamankan sejumah barang bukti yang di taruh dalam sebuah tas.

“Pelaku kyai dini hari kemudian dibawa menuju kota Jogja,” kata Kapolres Sleman, AKBP Yulianto, Selasa (23/8/2016).

Dalam perjalanan tersangka yang dikawal oleh empat orang petugas dalam satu mobil merasa haus dan meminta minum kepada petugas saat perjalanan sampai didaerah Secang Magelang, Selasa pagi. Atas dasar rasa kemanusiaan akhirnya petugas membelikan air minum.

Namun dengan memanfaatkan kelengahan petugas saat membelikan minum, tersangka mengambil pisau yang menjadi barang bukti. Kemudian pelaku langsung menggunakan pisau tersebut untuk menikam tubuhnya bagian perut sebelah kiri.

Mengetahui aksi pelaku di dalam mobil, petugas kemudian segera melarikan tersangka menuju rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.

Namun naas nyawa tersangka tidak dapat tertolong pada saat itu. “Kami masih belum tau tersangka itu meninggal di mobil atau dirumah sakit. Untuk saat ini jenazah masih dalam proses autopsi di RS Sardjito,” ujarnya.

Menurut keterangan petugas sementara, pada saat proses penangkapan selama dalam perjalanan juga tampak gelisah. “Mungkin pelaku sudah bingung karena memikirkan hukuman atas perbuatannya, tapi untuk kronologis lebih detail belum bisa dijelaskan oleh anggota yang mengikuti penangkapan karena petugas juga masih diperiksa,” katanya.

Kemudian, kata Kapolres, saat ini seluruh petugas yang ikut mengawal penangkapan tersangka juga sedang diperiksa oleh Propam Polda DIY. Dan jika benar kejadian ini ada unsur kelalaian dari petugas maka Kabig Propam akan memproses sesuai dengan aturan yang berlaku.

Sementara itu Kabid Propam Polda DIY AKBP Dheny Dariyadi mengatakan saat ini para anggota masih dalam pemeriksaan, jika memang ada faktor kelalaian petugas maka Propam siap melakukan hukuman disiplin. “Namun kita akan lihat dulu bagaimana nanti pemeriksaan, karena masih running terus sampai saat ini. Pemeriksaan ada yang dilapangan dan di Polda pati,” ujarnya.

Bocah Diduga Jadi Korban Sodomi Tiga Teman

SODOMI DI PATI brebes- Tiga anak warga Desa Kaligangsa Kulon, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes dilaporkan ke Polres Brebes pati. Mereka diduga telah melakukan pencabulan terhadap lima teman sebaya yang tiap harinya bermain bersama- sama.

Ketiga anak yang dilaporkan tersebut yakni EG kyai (12), RZ kyai (13), dan RM kyai (12) telah dilaporkan dua dari lima orangtua korban. Mereka diduga melakukan tindak asusila terhadap teman bermain yang masih duduk di bangku SD pati dan SMP pati.

Seorang nenek korban, Sri (50) mengatakan ia mengetahui kasus tersebut saat cucunya yang berinisial G (12) tidak mau lagi bermain dengan ketiga teman sebayanya itu.

“Saya tanya alasannya kenapa. Awalnya, cucu saya tidak mau menjawab, namun setelah saya desak, akhirnya ia mengaku. Cucu saya mengatakan, katanya mereka jorok,” kata Sri, Kamis (12/1/2017).

Menurutnya, berdasarkan penuturan sang cucu, aksi yang dilakukan teman cucunya itu sudah berlangsung dua tahun terakhir ini. Ketiga anak yang diduga melakukan tindakan asusila itu melancarkan aksinya di tempat- tempat sepi, semisal di dalam kamar rumah atau di terowongan rel kereta api.

“Cucu saya mengatakan jika tidak melayani aksi bejat tiga anak itu, pasti akan dipukul. Kalau seperti itu, tentu saya marah dengan perbuatan tiga anak laki-laki tersebut,” terangnya.

Selain disodomi, cucunya kerap diminta memegang kemaluan tiga anak laki- laki itu. Selain itu, korban kerap dipaksa utuk melakukan oral seks sodomi.

Orangtua korban lain yang tidak mau disebutkan namanya, mengaku sudah melaporkan tiga anak tersebut ke kepolisian. Ia ingin agar mereka jera dan tidak melakukan hal tercela tersebut.

“Anak- anak kami dipaksa untuk melakukan hal yang menjijikkan. Makanya, saya lapor ke polisi agar ada efek jera,” ucapnya.

Ia mengatakan, anaknya juga telah melakukan visum di rumah sakit sebagai bahan barang bukti untuk melaporkan kasus tersebut ke Polres Brebes pati. Pihaknya pun telah melaporkan tindakan tersebut pada Selasa (10/1/2017). (*)

sodomi warga pati

KARANGANYAR – Jumlah korban sodomi yang dilakukan oleh Fajarudin, warga Tegalgede, Kecamatan Karanganyar Kota, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, terus bertambah. Sampai saat ini tercatat ada 17 orang yang menjadi korban tindakan bejat yang dilakukan oleh pemulung tersebut.

Wakapolres Karanganyar Kompol Prawoko mengatakan, pada Kamis (23/3/2017) lalu ada seorang korban sodomi yang melapor ke Polres Karanganyar. Korban yang berusia 8 tahun itu datang dengan didampingi oleh kedua orang tuanya.

Kepada petugas, korban mengaku telah disodomi oleh Fajarudin di sebuah lokasi yang ada di Kabupaten Karanganyar beberapa waktu yang lalu. Saat ini, kondisi korban tersebut juga mengalami trauma seperti 16 korban lainnya.

Untuk memperkuat laporan, petugas juga telah mengambil visum  kyai et repertum pada tubuh korban sodomi. Hasil visum dan keterangan dari korban dan keluarga itu nantinya didalami untuk diambil langkah berikutnya baik untuk pendampingan atau penanganan lain.

Dengan adanya korban baru tersebut, saat ini jumlah korban menjadi 17 orang. Jumlah tersebut kemungkinan masih bisa terus bertambah, mengingat praktik sodomi yang dilakukan oleh Fajarudin sudah dilakukan sejak tahun 2003.

Dia juga mengimbau kepada seluruh masyarakat yang mengetahui adanya korban lain atau keluarganya menjadi korban untuk segera melapor ke Polres Karanganyar. Masyarakat tidak perlu risau atau malu karena identitas para korban sodomi dan keluarganya bakal dirahasiakan oleh petugas pati.

Tidak hanya itu, bagi korban yang melapor nantinya alam diberi pendampingan secara psikologis dan pengobatan luka fisik jika terjadi. Penanganan nantinya bakal dilakukan oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Karanganyar, Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak, serta beberapa lembaga swasta lain yang ada.

“Dari pengakuan tersangka ada 16 korban, namum ternyata jumlahnya bertambah lagi, mungkin tersangka lupa atau berbohong, nanti akan kita dalami lagi,” ucapnya, Sabtu (25/3/2017).

Kasatreskrim Polres Karanganyar AKP Rohmat mengatakan, sejauh ini korban semuanya adalah laki-laki. Namun tidak menutup kemungkinan korban tersebut ada yang wanita, karena tersangka juga mengaku suka dengan lawan jenis dan pernah melakukan hubungan badan beberapa kali.

“Segala kemungkinan bisa terjadi dan kita terus periksa tersangka,” ucapnya pati kyai.

Bujang Tua Sodomi Bocah

Bujang Tua Sodomi Bocah

Kasih Uang Rp100 Ribu, Bujang Tua Sodomi Bocah
M Najemi (29) warga kawasan Seberang Ulu (SU) 1, nekat menyodomi pati RA (14) bocah laki-laki yang dikenalnya di jalan.Tersangka saat diperiksa polisi/Adi H/KORAN SINDO

– M Najemi (29) warga kawasan Seberang Ulu (SU) 1, nekat menyodomi pati RA (14) bocah laki-laki yang dikenalnya di jalan. Akibatnya, bujangan yang tak lagi muda tersebut akhirnya harus berurusan ke Polresta Palembang, Senin (8/5/2017).

Informasi yang dihimpun, aksi sodomi yang dilakukan tersangka sedikitnya sudah berlangsung tiga kali. Terakhir, aksi tersebut dilakukan tersangka di kediaman kerabatnya di Jakabaring. Dengan modus memberi uang senilai Rp100 ribu, tersangka pun berhasil memperdaya kiai korban.

“Dia (tersangka) bilang akan kasih saya uang kalau saya mau diajak dan menemaninya menjaga rumah. Saya tidak tahu kalau dia mau begitu (sodomi), makanya saya mau,” ujar korban AR, ketika di Polresta Palembang.

Rupanya, lanjut AR, tiba di salah satu rumah di Jakabaring, tersangka pun langsung melancarkan aksinya. Tersangka memaksa agar korban melepaskan celananya dan melakukan perbuatan tak senonoh tersebut. “Saya sempat menolak pak, tapi dia terus memaksa saya,” ungkapnya. kyai

Sementara itu, tersangka Najemi mengaku perbuatannya dilakukan karena khilaf. “Khilaf saja. Tidak ada rencana melakukan itu,” tuturnya.

Menurut tersangka, aksi bejat tersebut cuma satu kali dilakukannya. Perbuatan itupun tak sampai menyodomi korban.

“Baru satu kali, itu juga saya cuma hisap punya dia saja,” tutur pria berkacamata ini. Usai melakukan aksinya, tersangka mengaku memberikan uang kepada korban. “Saya kasih uang karena dia yang minta. Saya kasih karena kasihan,” kilahnya.

Kasat Reskrim Polresta Palembang, Kompol Yon Edi Winara saat dikonfirmasi mengatakan, saat ini tersangka masih dalam pemeriksaan intensif pihaknya. “Sudah kita terima serahan tersangka. Masih kita lakukan pemeriksaan,” timpalnya

kasus sodomi pati

Ada banyak kasus pelecehan seksual yang terjadi dewasa ini, tapi tidak semua korban mau dan berani melaporkan kejadian yang menimpa mereka. Salah satu kasus pelecehan seksual yang cukup mendapat banyak sorotan adalah sodomi. Akibat dari sodomi sendiri bisa memengaruhi baik fisik maupun psikologis korbannya secara jangka panjang.

Sodomi adalah seks anal atau oral; atau aktivitas seksual antara manusia dan non-manusia (binatang); atau setiap aktivitas seksual untuk kesenangan semata. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sodomi adalah pencabulan dengan sesama jenis kelamin atau dengan binatang; sanggama antarmanusia secara oral atau anal, biasanya antarpria; semburit (persetubuhan sesama lelaki; perjantanan).

dampak sodomi terasa hingga kemudian hari - alodokter

Dampak sodomi secara fisik dan psikis

Sodomi berdampak pada fisik dan mental korban. Secara fisik, korban bisa menderita penyakit kulit  pati eritema, fisura anal (anus robek), bekas luka perianal, kutil dubur, iritasi usus besar, dispepsia non ulkus (nyeri di perut bagian atas), nyeri perut kronis, nyeri panggul kronis, HIV, dan penyakit menular seksual. Korban juga dapat menderita gangguan otot anus seperti encopresis (buang kotoran di celana), dan nyeri saat buang air besar.

Sedangkan secara psikis, korban sodomi dapat menderita ketakutan, kecemasan, mudah marah, gangguan tidur, gangguan makan, merasa rendah diri, depresi,  memiliki ketakutan yang berlebihan, merasa gugup, stres, menyalahgunakan alkohol dan narkoba, memiliki masalah dalam hubungan intim, tidak berprestasi di kantor, hingga mencoba bunuh diri.

Bila sodomi terjadi pada anak-anak, bisa saja ia ketinggalan pelajaran di sekolah. Namun, pelecehan terhadap anak jarang terdeteksi karena mereka sering kali takut mengadukan perbuatan tidak menyenangkan yang dialami.

Dan jika yang menjadi korban sodomi adalah pria, ada tambahan efek samping jangka panjang. Contohnya merasa tertekan membuktikan kejantanannya secara fisik dan seksual, kehilangan kepercayaan diri pada kejantanannya, bingung dengan identitas seksualnya, takut menjadi homoseksual, hingga homofobia.

Hukum yang mengatur tindak kejahatan sodomi di Indonesia

Mengapa ada orang yang suka melakukan hubungan seksual lewat anal atau sodomi? Alasannya bermacam-macam, mulai dari menuntut kepuasan seksual dari pasangan, bingung dengan orientasi seksual sendiri, mempermalukan korban, hingga merasa memiliki kekuasaan pati dan kontrol terhadap korban.

 Istilah sodomi belum dikenal dalam hukum pidana di Indonesia. Walaupun belum diatur secara khusus, perbuatan sodomi dapat dikategorikan sebagai pencabulan pati. Sehingga dalam praktiknya, kasus sodomi dikenakan dengan pasal-pasal tentang pencabulan.

Pelaku pencabulan (termasuk sodomi) dapat dijerat Pasal 289 KUHP dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun, Pasal 290 KUHP dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun. Jika sodomi dilakukan sesama jenis terhadap anak di bawah umur, dengan pelaku adalah orang dewasa, pelaku tersebut akan dikenakan Pasal 292 KUHP dengan ancaman hukuman penjara selama-selamanya lima tahun.

Sementara itu, perbuatan cabul yang dilakukan terhadap anak di bawah umur diatur secara khusus dalam Pasal 82 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun dengan denda paling banyak lima miliar rupiah.

Jangan ragu untuk melaporkan kepada pihak kepolisian jika Anda melihat, mendengar, atau mengalami tindak pelecehan seksual sodomi. Dan jangan lupa untuk menghubungi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) jika korban yang Anda kenal masih anak-anak.

 

Continue reading

Bocah di Desa Cieurih dan Tabir Kasus Sodomi

Bocah di Desa Cieurih dan Tabir Kasus Sodomi

KUNINGAN, (PRLM).-Berita-berita terkait kasus pelecehan seksual berupa sodomi terhadap anak-anak yang terjadi di Sukabumi, baru-baru ini telah membuka tabir adanya kasus serupa di beberapa daerah lainnya.

Seperti di antaranya di Kota Depok, Kabupaten Cirebon, dan kini mulai terungkap kasus serupa telah terjadi juga di Kabupaten Kuningan dengan melibatkan pelaku dan korban anak-anak yang masih di bawah umur.

Dugaan kasus sodomi di Kabupaten Kuningan baru-bari ini terungkap warga, telah terjadi di Dusun Wage, Desa Cieurih, Kecamatan Cidahu. Menurut Keterangan yang terhimpun “PRLM” dari sejumlah warga di dusun tersebut, kasus sodomi di dusun itu tercatat telah menimpa empat orang korban, dan melibatkan dua orang pelaku.

“Korban maupun dua orang pelakunya masih berusia anak-anak. Semuanya, anak-anak warga di dusun ini,” ujar Uci Sanusi (40) paman dari salah seorang korban kasus tersebut, dibenarkan pula orangtua salah seorang korban lainnya, serta beberapa orang tokoh masyarakat di dusun tersebut Minggu (11/5/2014).

Keempat anak korban sodomi di dusun itu saat ini masih duduk di sekolah dasar, masing-masing berinisial U (10), F (10), R (10), dan J (11). Sementara dua orang anak yang telah mengaku sebagai pelakunya, menurut mereka, berinisial Us (16) siswa kelas I SMK dan Sa (14) siswa kelas II SMP.

Kasus penyimpangan seksual yang kini mengundang keresahan para orangtua anak-anak di dusun itu, menurut mereka terkuak dari celoteh anak-anak yang sedang belajar membaca Alquran, pada Kamis (8/5/2014).

Sementara, menurut pengakuan empat anak yang telah menjadi korbannya, disusul pengakuan dua terduga pelakunya tersebut tadi, tindakan sodomi melibatkan anak-anak tersebut terjadi sekitar dua tahun lalu.

“Pada hari Kamis (8/5/2014) siang, ke-empat anak-anak yang menjadi korban pencabulan itu, sedang belajar membaca alquran di rumah Pak Kyai Marzuki, seorang guru mengaji di dusun ini. Pada kesempatan itu, Pak Kiyai sempat mengupas sedikit mengenai kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang sedang heboh diberitakan media massa, disertai memberikan nasihat supaya anak-anak didiknya tidak sampai terbius menjadi korban apalagi menjadi pelaku perbuatan seperti itu,” kata Aziz (45) yang juga sebagai salah seorang guru mengaji di dusun tersebut.

Mendengar nasihat itu, tiba-tiba salah seorang murid dalam kelompok pengajian itu yang juga anak kandung Kiyai Marzuki, mengungkapkan bahwa U, F, R, dan J, pernah menjadi korban sodomi.

Saat ditanya oleh Kiyai Marzuki, kala itu pula U, F, R, dan J, tanpa ragu langsung membenarkan serta menuturkan pengalaman buruk yang tekah dialaminya itu.

Atas adanya pengakuan dari anak-anak tersebut, kiai Marzuki pada hari itu pula segera melakukan pendekatan kepada para orangtua anak-anak tersebut, termasuk kepada keluarga dua orang anak yang disebut-sebut sebagai pelakunya tadi.

“Pada hari itu, kedua anak yang menjadi pelakunya pun, segera didekati dan ditanya benar tidaknya telah melakukan perbuatan asusila terhadap anak-anak itu. Dan, kedua anak itu pun ternyata mengakui apa adanya seperti yang diungkapkan oleh anak-anak kami ini yang menjadi korbannya,” kata ayah kandung korban F, Misno (54) didampingi istrinya Eni (35) sambil menggandeng anaknya itu.

Menyikapi itu, para orangtua korban dan orangtua pelaku malam harinya diarahkan bertemu dan bermusyawarah di kantor Desa Cieurih. Muyawarah kedua belah pihak yang disaksikan sejumlah aparat desa pada Kamis malam itu, membuahkan kesepakatan bersama dan dituangkan secara tertulis dalam selembar surat peryataan bermeterai.

Dalam pernyataan bersama itu, berisi beberapa poin di antaranya kedua belah pihak menyadari perbuatan asusila sodomi melibatkan dua pelaku menimpa empat korban anak-anak mereka merupakan musibah dan perbuatan tidak sengaja yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur.

Kemudian, pihak kedua tidak akan menuntut pelaku ke jalur hukum yang berlaku dan akan menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan.
Namun, orang tua dan keluarga korban U dan F, Minggu (11/5/2014) menyatakan berubah pikiran, dan telah merencanakan akan mengadukan kasus pelecehan seksual yang telah menimpa anak-anak mereka itu kepada pihak Kepolisian Resor Kuningan.

Bahkan, orang tua U dan F yang sempat menerima sejumlah uang sebagai “uang damai” dari orangtua pelaku pascamusyawarah, kini telah mengembalikan lagi uang tersebut.(Nuryaman/A-89) pati ***